September 11, 2009

Kejutan Terindah Untuk Dira

“Happy birthday, Dira…” pasti itu yang diucapkan Mama saat aku ulang tahun.Bukannya mau minta kado special atau apa, aku cuma mau ketemu sama Papa. Dari kecil aku nggak pernah ketemu sama Papa. Sejak berumur 8 tahun, aku sering bertanya pada Mama kemana Papa pergi. Tapi, Mama selalu menjawab Papa bekerja di luar negeri sejak aku berumur 2 tahun. Dan sekarang umurku sudah mulai dewasa, tapi aku menyebutnya remaja. Karena aku baru 15 tahun. Berarti kalau dihitung, aku nggak ketemu Papa selama 13 tahun. “Dira… sudah siang, sayang. Ayo berangkat sebelum terlambat!!” teriak Mama. “Iya, iya, Ma. Ini udah jalan.” sahutku.
ΩΩΩΩ
Aku berjalan menuju kelas. “Dira…!” teriak seseorang. Aku langsung menoleh kearah orang yang memanggilku. Rinda!!! Dia sahabatku dari kecil. Keluarga Rinda tahu bagaimana keluargaku dan juga sebaliknya. “Kamu ini pagi-pagi udah teriak-teriak kaya’ nggak ada kerjaan aja!!” kataku agak sebel. Seperti biasa, Rinda pukul lenganku kalau aku mau ulang tahun. “Ra, 3 hari lagi kan kamu ulang tahun, kado apa yang kamu inginkan?” kata Rinda sambil merangkulku dan berjalan ke kelas. Aku tersenyum melihat Rinda dan mengatakan “Rinda, Rinda, tiap tahun kamu itu nanya hal yang sama ke aku, kaya’ nggak ada pertanyaan lain aja? Tapi, tetep aja aku jawab kok, Rin. Aku mau ketemu Papa.” Waktu aku lagi seru-serunya ngobrol, datang ‘Genk Ganjen’ dan langsung nyahut. “Oo… ada yang mau ketemu sama Papa tersayangnya?” kata Indri, salah satu anggota ‘Genk Ganjen’.
Diam dan pergi meninggalkan mereka, itu hal yang sering aku lakuin sama Rinda kalau lagi ada mereka. Karena kalau ditanggapi, mereka tambah jadi. Aku memukul dahiku dan berkata “Aduh… Rin, udah ngerjain PR Kimia belom?? Aku lupa ngerjain.” sambil nyengir. “Udah kok, Ra.” jawabnya singkat. “Hehehe, Rin, liat donk…” kataku sambil senyum selebar-lebarnya dan semanis mungkin. Rinda menggeleng-gelengkan kepalanya sambil lihat ke arahku. Tapi, biar gitu tetap dikasih ke aku. Hahaha Rinda nggak pernah pelit kalau urusan kaya’ gini. Tapi, kalau ulangan, jangan harap dia kasih jawabannya ke kita. Dasar Rinda.
ΩΩΩΩ
Belum sampai lonceng aku sudah selesai mengerjakan PR Kimia dari Pak Ruslan. “Ra, tumben banget sih kamu lupa ngerjain PR.” kata Rinda. “Abisnya tadi malem aku lagi ngambek sama Mama.”
jawabku dengan santainya. Rinda langsung ketawa cekikikan, dan mengolokku. Pas dia lagi seru ngolok aku, pujaan hatinya datang. “Rin, Rin, Rezo!” kataku. Seketika Rinda berhenti ketawa, dan nggak ngolok aku lagi. Sekarang ganti aku yang cekikikan ngelihat Rinda, sambil ngolok-ngolok. Muka Rinda memerah dan langsung melayangkan tangannya ke pundakku. Breeg… “Aduh… sakit tau!!!” teriakku. “Makanya nggak usah ngeledek orang!!” sergahnya. Aku menunjukkan tanda damai pada Rinda.
Bel masukan bunyi…. Rinda langsung kembali ke tempatnya yang berada di seberangku. Pak Ruslan memasuki ruang kelas. Pelajaran dimulai jam 7.30, sedang sekarang baru jam 7.15. Arrgh… NYEBELIN!!! Aku berpikir, biar ada kegiatan yang bermanfaat dalam waktu 15 menit ini. Akhirnya aku angkat tangan. “Pak, daripada kita selama 15 menit tidak melakukan pekerjaan apa-apa, lebih baik mengumpulkan PR dari Bapak!!” kataku. Pak Ruslan mengangguk-angguk, dan kemudian menyuruhku mengambil tugas teman-teman. Setelah semua buku terambil, aku meletakkannya diatas meja Pak Ruslan. Hal selanjutnya adalah diam, diam dan diam lagi. “Dir, Dira!” kata seseorang yang membuatku kaget. Aku menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Dan aku lihat Rezo yang memanggilku. “Kenapa sich??” tanyaku setengah berbisik. “Tolong kasihkan ini ke Rinda!” jawabnya, sambil mengeluarkan selembar kertas pink. “Apaan ini?” tanyaku penasaran. “Udah kasih aja buat Rinda! Thank’s ya…” jawabnya lagi. What??? Apa isinya ini ya?? Aduh penasaran banget aku! Kertas warna pink… Jangan-jangan Rezo nyatain perasaannya ke Rinda??! Kalau iya, gimana reaksi Rinda ya?? Ah.. udahlah kasih pas istirahat aja, daripada diambil sama Mr. Killer ini!!
ΩΩΩΩ
“Gimana, Rin?” tanyaku penasaran. “Apanya yang gimana?” Rinda malah tanya balik. “Ya, suratnya tadi tu gimana? Apa isinya?” kataku agak diperjelas. “Isinya, Rezo nembak aku, Ra… Aku seneng banget!! Tapi, aku juga bingung.” jawabnya. Aku heran. “Bingung kenapa sih, Rin? Jawabnya?” tanyaku. Rinda mengangguk. Aku berdiri menuju tepi balkon. “Rin, kamu ikutin aja apa yang ada dalam hati kamu! Kalo Rezo itu baik buat kamu, kenapa nggak?” kataku. “Tapi, Ra, kita kan punya janji nggak pacaran dulu sebelum dua-duanya punya gebetan, dan dia nembak kita.” kata Rinda, mengingat janji yang pernah kita buat. Aku menoleh ke Rinda dan tersenyum. “Rin, kalo sekarang ada cowok yang kamu suka nembak kamu, aku nggak bisa ngelarang. Aku nggak mau liat sahabatku sedih… Aku mau kamu selalu ada buat aku, waktu seneng maupun sedih. Meskipun kamu sama pacarmu! Apa jawabmu sekarang?” jelasku. Rinda mengangguk tanda iya dia menerima cinta dari Rezo.
Aku jadi ngelamun… mengingat setiap ada surprise party ultahku, nggak ada Papa. Padahal aku selalu berdoa setiap selesai sholat. Minta biar aku bisa ketemu Papa, tapi sampai sekarang doaku nggak terkabul. “Ra, kok ngelamun, kenapa?” tanya Rinda penasaran. Dira terkaget dan terbangun dari lamunannya. “Hm… aku kangen sama Papa, Rin. Aku mau ketemu Papa di ulang tahunku yang ke 16 nanti. Dan Papa kasih ucapan dan memelukku hangat.” kataku. Rinda mendekatiku dan memegang pundakku. “Sabar ya, Ra… aku yakin doamu selama ini pasti terkabul. Tuhan sayang sama kamu mungkin nggak pas di hari ulang tahunmu, tapi di hari yang lain kamu dipertemukan sama Papa kamu.” jawab Rinda sambil tersenyum. Aku mengangguk dan karena hari sudah mulai sore, aku pamit sama Rinda. Aku menuju ke lantai bawah, dan masuk ke mobil Livina yang Mama kasih waktu ultahku yang ke-14.
ΩΩΩΩ
“Dira, makan yok sayang!!” teriak Mama dari ruang makan. “Iya, Ma.” jawabku sambil berjalan menuju ruang makan. Rumah begitu sepi!! Dari kecil nggak ada Papa. Makan malem selalu berdua. Kecuali keluarga pada datang dan menginap di rumah. Sampai di ruang makan, aku duduk dan makan. “Dira, nanti kamu mau dikado apa?” tanya Mama tiba-tiba. Ugh… aku sebel denger pertanyaan yang tiap tahun selalu ditanyakan itu!!! Membosankan! “Aku mau ketemu Papa.” jawabku singkat. Dan Mama hanya tersenyum melihatku.
Selesai makan, aku denger Mama lagi nelpon seseorang. Tapi, aku nggak pikirin. Paling juga teman arisannya Mama. Udah lah aku ke kamar aja! “Ma, aku ke kamar ya..” kataku dan mencium pipi Mama. Mama mengacungkan jempolnya, tanda oke!
ΩΩΩΩ
3 Hari kemudian…
Tepat jam 00.00, saat aku sedang tertidur pulas, kamarku diserbu banyak orang sambil menyanyikan lagu ‘Happy Birthday to You’. Lagu itu mengalun terus sampai aku bangun. Saat aku membuka mata, kue ada di tangan Rinda. “Ra, tiup dulu lilinnya!” kata Kiran, salah satu sepupuku. “Jangan lupa make a wish dulu, Ra.” sahut Thea, Kakak Kiran. Ya Allah, diulang tahunku yang ke-16 tahun ini, aku mau ketemu sama Papa, lebih baik dari sebelumnya dan tetap Dira apa adanya. Amin! Wush… lilin tertiup. “Ye…” teriak semua orang.
ΩΩΩΩ
Keesokan paginya…
“Ra, ke bawah yok… ada sesuatu yang mau dikasih ke kamu.” ajak Rinda. Aku mengangguk dan menuju ke bawah, sampai bawah langsung sarapan bareng. Selesai sarapan, mataku ditutup pakai secarik kain. “Kenapa sih pakai acara tutup mata segala??? Emang kita mau kemana?” tanyaku. “Sudahlah!” jawab Mama singkat. “Pasti kamu seneng deh dapet kado ini, Ra.” kata Tante Wira. Perjalanan kita tempuh selama 30 menit, dengan menggunakan 3 mobil.
Lho, kok tempatnya rame banget?!?! Dan kaya’nya aku nggak asing deh sama suasana ini. “Ra, kamu tunggu sini ya! Dan kamu juga berdiri di sini.” kata Mama. Agak lama aku berdiri, tiba-tiba Rinda datang dan menyuruhku membuka mata. Dan nggak segan aku langsung buka mata. Aku lihat ada sesosok lelaki di depanku dan tersenyum padaku. “Siapa dia, Ma?” tanyaku heran. “Dia Papa, sayang…” jawab Mama. Tanpa ragu, aku memeluk Papa. “Ternyata Diranya Papa udah gedhe!” kata Papa. Semuanya ini seperti mimpi. Apa semua ini nyata? Ya, ini nyata. “Papa kenapa ninggalin Dira?” tanyaku. “Papa kerja di luar negeri, Nak.” jawab Papa.
Aku ngenalin Rinda ke Papa. “Ra, selamat ya keinginanmu selama ini udah kecapai… O,ya Om, hari ini ulang tahun Dira yang ke-16.” kata Rinda. “Jelas Om nggak lupa dong… Dan setiap tahun ada kado special buat Dira. Sekarang juga bawa.” Jawab Papa. Aku memeluk Papa lagi. Jadi, semua kado yang aku dapat nggak hanya dari Mama? “Makasih ya, Pa, Ma.” Kataku, sambil memeluk Papa dan Mama. Terima Kasih Ya Allah… Engkau telah mengabulkan doaku.

THE END!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar